Ikuti Kami
Artikel 15 September 2026 10 menit baca

Dr. H. A. Malik B. Masry, SE., M.Si. Jejak Kepemimpinan, Pengabdian kepada Daerah, dan Warisan Pendidikan Rahmatul Asri

Bagikan
Dr. H. A. Malik B. Masry, SE., M.Si.  Jejak Kepemimpinan, Pengabdian kepada Daerah, dan Warisan Pendidikan Rahmatul Asri
15 September 2026
10 menit baca

Pendahuluan

Sejarah pembangunan suatu daerah tidak hanya dibentuk oleh kebijakan dan pembangunan fisik, tetapi juga oleh tokoh-tokoh yang memiliki visi jauh ke depan dan keberanian untuk mewujudkan gagasannya.

Salah satu sosok yang meninggalkan jejak penting dalam perjalanan pemerintahan dan pendidikan di Sulawesi Selatan adalah Dr. H. A. Malik B. Masry, SE., M.Si.

Beliau dikenal sebagai mantan Wali Kota Makassar, pernah dipercaya mengemban amanah sebagai Sekretaris Menteri pada Kementerian Percepatan Pembangunan Kawasan Timur Indonesia, serta pernah menjabat sebagai Deputy of Regional Growth Development (Deputi Pengembangan Pertumbuhan Regional). Beliau juga merupakan tokoh yang berada di balik lahirnya Yayasan Pendidikan Rahmatul Asri dan Pondok Pesantren Modern Rahmatul Asri di Kabupaten Enrekang.

Perjalanan hidupnya memperlihatkan sebuah rangkaian pengabdian yang menarik: dari birokrasi, pemerintahan daerah, pemerintahan pusat, hingga pembangunan sumber daya manusia melalui pendidikan.

Bila jabatan pemerintahan memiliki batas waktu, maka pendidikan memiliki daya pengaruh yang dapat berlangsung lintas generasi. Di sinilah salah satu makna penting dari warisan Malik B. Masry.


Wali Kota Makassar: Mengabdi di Pusat Pemerintahan Perkotaan

Nama A. Malik B. Masry tercatat dalam sejarah pemerintahan Kota Makassar sebagai salah seorang wali kota yang memimpin kota tersebut pada dekade 1990-an.

Pemerintah Kota Makassar mencatat A. Malik B. Masry sebagai mantan Wali Kota Makassar yang memberikan sumbangsih terhadap pembangunan Kota Makassar. Berbagai catatan mengenai masa kepemimpinannya menempatkan Malik B. Masry sebagai Wali Kota Makassar periode 1994–1999. ANTARA juga mencatat beliau sebagai sosok pemimpin yang tegas dan disiplin dalam menjalankan pemerintahan serta dikenal dekat dengan bawahannya. (Antara News Makassar)

Pada masa pemerintahannya, Kota Makassar untuk pertama kalinya memperoleh Piala Adipura, sebuah penghargaan penting yang berkaitan dengan kebersihan dan pengelolaan lingkungan perkotaan.

Kepemimpinan di pemerintahan kota tentu bukan perkara sederhana. Seorang wali kota harus berhadapan dengan berbagai persoalan perkotaan, mulai dari pelayanan masyarakat, kebersihan, tata kelola pemerintahan, pembangunan infrastruktur, hingga peningkatan kualitas kehidupan masyarakat.

Karena itu, pengalaman Malik B. Masry sebagai wali kota menjadi bagian penting dalam memahami karakter kepemimpinannya: kepemimpinan yang tidak hanya berorientasi pada jabatan, tetapi juga pada pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat.


Dari Pemerintahan Daerah ke Pemerintahan Pusat

Pengabdian Malik B. Masry tidak berhenti setelah menyelesaikan tugasnya sebagai wali kota.

Dalam perjalanan karier berikutnya, beliau dipercaya mengemban amanah di tingkat pemerintahan pusat sebagai Deputy of Regional Growth Development (Deputi Pengembangan Pertumbuhan Regional) pada Ministry of the Acceleration of Development of Eastern Indonesia.

Selain itu, beliau juga tercatat sebagai Sekretaris Menteri pada Kementerian Percepatan Pembangunan Kawasan Timur Indonesia.

Pengalaman tersebut memperluas ruang pengabdian Malik B. Masry dari pemerintahan daerah menuju pembangunan kawasan dalam lingkup pemerintahan pusat.

Sebagai Deputy of Regional Growth Development, beliau berada dalam lingkup tugas yang berkaitan dengan pengembangan pertumbuhan regional.

Sementara itu, sebagai Sekretaris Menteri, beliau mengemban amanah dalam mendukung pelaksanaan tugas kementerian yang berkaitan dengan percepatan pembangunan kawasan timur Indonesia.

Pengalaman di pemerintahan daerah dan kemudian di tingkat pusat memberikan perspektif yang lebih luas mengenai persoalan pembangunan Indonesia.

Jika sebagai wali kota ia bersentuhan langsung dengan persoalan masyarakat perkotaan, maka dalam kapasitasnya di pemerintahan pusat, perhatian pembangunan berada dalam ruang lingkup yang lebih luas: bagaimana mempercepat pembangunan wilayah yang masih menghadapi keterbatasan infrastruktur, sumber daya manusia, akses pendidikan, pelayanan dasar, dan kesempatan ekonomi.

Dalam konteks inilah pengalaman birokrasi Malik B. Masry menjadi bagian penting dari perjalanan pengabdiannya kepada bangsa dan daerah.


Membangun Manusia melalui Pendidikan

Namun, salah satu warisan terbesar Malik B. Masry justru lahir bukan dari sebuah kantor pemerintahan.

Warisan tersebut lahir dari sebuah lembaga pendidikan di Kabupaten Enrekang.

Ketika banyak orang memandang pembangunan dari sisi jalan, gedung, ekonomi, dan infrastruktur, Malik B. Masry memberikan perhatian kepada sesuatu yang jauh lebih mendasar: manusia yang akan mengisi masa depan daerah.

Gagasan tersebut kemudian diwujudkan melalui pendirian Yayasan Pendidikan Rahmatul Asri.

Dari yayasan inilah kemudian lahir Pondok Pesantren Modern Rahmatul Asri, yang berada di kawasan Maroangin, Kecamatan Maiwa, Kabupaten Enrekang.


Rahmatul Asri: Sebuah Gagasan yang Dimulai pada 1996

Pondok Pesantren Modern Rahmatul Asri mulai dibangun pada tahun 1996 dan diresmikan pada 18 Agustus 1996.

Pada awal berdirinya, pesantren tersebut berdiri di atas areal sekitar 27,4 hektare dan menerima sekitar 63 santri. Sejarah Rahmatul Asri mencatat bahwa pesantren tersebut didirikan oleh H. A. Malik B. Masry, SE., MS., yang ketika itu masih menjabat sebagai Wali Kota Makassar, di bawah naungan Yayasan Pendidikan Rahmatul Asri. (Repository IAIN Pare)

Lokasi pesantren berada di Km 01 Maroangin, Desa Botto Mallangga, Kecamatan Maiwa, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan. Profil pesantren juga mencatat Malik B. Masry sebagai pendiri dan tahun berdirinya pada 18 Agustus 1996. (PONTREN MODERN RAHMATUL ASRI Weblog)

Yang menarik, gagasan mendirikan pesantren tersebut tidak muncul tanpa proses.

Menurut sejarah yang didokumentasikan oleh Rahmatul Asri, Malik B. Masry melakukan kunjungan ke sejumlah pondok pesantren di Sulawesi Selatan dan Pulau Jawa. Hasil kunjungan tersebut kemudian didiskusikan dengan sejumlah tokoh pendidikan dan keagamaan, antara lain Prof. Dr. H. A. Basalamah, SE., M.Si., Drs. H. Iskandar Idi, Drs. H. Nur Sunusi, dan Prof. Dr. H. Azhar Arsyad, MA. Dari proses tersebut kemudian lahir gagasan untuk menghadirkan sebuah lembaga pendidikan Islam modern di tanah Enrekang. (Repository IAIN Pare)


Dari Kesederhanaan Menuju Sebuah Lembaga Pendidikan

Pada masa awal berdirinya, Rahmatul Asri tentu belum memiliki fasilitas seperti yang dapat disaksikan sekarang.

Catatan sejarah pesantren menyebutkan bahwa pada tahap awal tersedia satu unit kantor, satu unit masjid, dua gedung asrama, gedung sekolah, serta dua unit perumahan guru. Pembangunan sarana dan prasarana tersebut masih menggunakan modal pribadi yayasan. (Maroangin)

Hanya dengan fasilitas yang terbatas tersebut, proses pendidikan dimulai.

Jumlah santri yang pada awalnya hanya sekitar 63 orang menjadi saksi dari sebuah cita-cita yang kemudian berkembang secara bertahap.

Seiring perjalanan waktu, Rahmatul Asri berkembang menjadi lembaga pendidikan yang semakin besar. Profil lembaga mencatat berbagai fasilitas pendidikan, asrama, laboratorium, perpustakaan, sarana keterampilan, fasilitas ibadah, serta berbagai program pengembangan santri. (PONTREN MODERN RAHMATUL ASRI Weblog)

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa sebuah lembaga pendidikan dapat tumbuh besar apabila dibangun di atas visi yang kuat, dikelola secara berkelanjutan, dan mendapatkan kepercayaan masyarakat.


Pendidikan yang Memadukan Ilmu, Agama, dan Karakter

Rahmatul Asri sejak awal tidak diarahkan semata-mata sebagai tempat untuk memperoleh pengetahuan agama.

Pesantren ini dikembangkan sebagai lembaga pendidikan yang berupaya memadukan pendidikan keislaman, pengetahuan umum, kedisiplinan, kemandirian, dan pembentukan karakter.

Profil Rahmatul Asri menunjukkan adanya integrasi antara metode pendidikan tradisional dan modern. Selain pendidikan formal, pesantren juga mengembangkan berbagai kegiatan seperti tahfiz Al-Qur'an, pidato tiga bahasa, kajian kitab kuning, kegiatan pertanian dan peternakan, serta berbagai kegiatan ekstrakurikuler. (PONTREN MODERN RAHMATUL ASRI Weblog)

Dalam perkembangannya, Rahmatul Asri juga menyelenggarakan pendidikan pada berbagai jenjang, mulai dari SMP, SMA, MTs, hingga MA, disertai pendidikan nonformal. (Repositori UIN Alauddin Makassar)

Dengan demikian, cita-cita pendirian Rahmatul Asri memiliki dimensi yang lebih luas daripada sekadar membangun sekolah.

Yang hendak dibangun adalah manusia.


Dari Membangun Kota hingga Membangun Generasi

Jika perjalanan Malik B. Masry dilihat secara utuh, terdapat benang merah yang sangat kuat dalam seluruh pengabdiannya.

Sebagai wali kota, ia terlibat dalam pembangunan sebuah kota.

Sebagai Deputy of Regional Growth Development dan Sekretaris Menteri pada Kementerian Percepatan Pembangunan Kawasan Timur Indonesia, ia berada dalam lingkup pembangunan kawasan dan pemerintahan pusat.

Sebagai pendiri Yayasan Pendidikan Rahmatul Asri, ia memilih membangun manusia melalui pendidikan.

Ketiganya memiliki satu tujuan yang sama: pembangunan.

Perbedaannya terletak pada objek pembangunan.

Pembangunan kota dapat menghasilkan jalan, gedung, fasilitas publik, dan lingkungan yang lebih baik.

Pembangunan kawasan berupaya menghadirkan pemerataan dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.

Sementara pembangunan pendidikan membentuk manusia yang kelak akan melanjutkan pembangunan tersebut.

Karena itu, mendirikan lembaga pendidikan dapat dipandang sebagai bentuk investasi jangka panjang.


Rahmatul Asri sebagai Warisan Pengabdian

Kini, ketika nama Malik B. Masry dikenang, Rahmatul Asri menjadi salah satu bukti nyata dari gagasan besar yang pernah beliau tanamkan.

Beliau tidak hanya meninggalkan catatan sebagai seorang mantan kepala daerah.

Beliau juga meninggalkan sebuah lembaga yang terus bergerak mendidik generasi.

Setiap santri yang belajar di Rahmatul Asri merupakan bagian dari sejarah tersebut.

Setiap guru yang mengabdikan diri di dalamnya merupakan bagian dari kesinambungan cita-cita tersebut.

Dan setiap alumni yang kemudian kembali mengabdi kepada masyarakat merupakan bagian dari buah dari investasi pendidikan yang dirintis sejak 1996.

Dalam pengertian inilah sebuah yayasan pendidikan dapat menjadi monumen kehidupan.

Ia tidak terbuat dari batu atau beton semata.

Ia dibangun melalui manusia.


Sosok Pemimpin yang Dikenang

Malik B. Masry telah berpulang pada 12 April 2021. Kepergiannya meninggalkan kenangan bagi masyarakat yang pernah mengenal dan bekerja bersamanya.

Dalam pemberitaan ANTARA, Wali Kota Makassar saat itu, Moh. Ramdhan Pomanto, mengenang Malik B. Masry sebagai sosok yang berpengaruh di masyarakat, tegas, disiplin dalam menjalankan pemerintahan, serta dekat dengan bawahannya. (Antara News Makassar)

Namun, bagi keluarga besar Rahmatul Asri, kenangan terhadap beliau memiliki makna yang lebih khusus.

Beliau bukan hanya seorang mantan wali kota.

Beliau adalah pendiri.

Gagasan yang dirintisnya di Enrekang terus berjalan melalui lembaga pendidikan yang dibangun bersama para tokoh pendidikan dan masyarakat.

Bahkan hingga kini, Rahmatul Asri terus mengenang Malik B. Masry sebagai sosok pendiri yang mewariskan nilai-nilai keikhlasan, kedisiplinan, kepemimpinan, dan kecintaan terhadap pendidikan. (MTs Rahmatul Asri)

Karena itu, mengenang Malik B. Masry bukan hanya mengenang masa lalu.

Mengenang beliau juga berarti melihat masa depan yang sedang dibangun melalui pendidikan.


Legacy yang Melampaui Jabatan

Setiap jabatan pada akhirnya akan berakhir.

Seorang wali kota akan digantikan.

Seorang pejabat kementerian akan menyerahkan tanggung jawab kepada penerusnya.

Namun, ada jenis pengabdian yang tidak berhenti ketika seseorang meninggalkan jabatannya.

Pendidikan adalah salah satunya.

Apa yang dirintis Malik B. Masry melalui Rahmatul Asri terus menemukan bentuknya dalam perjalanan generasi demi generasi.

Dari 63 santri pada masa awal, sebuah cita-cita pendidikan terus berkembang.

Dari sebuah kawasan yang dahulu masih sederhana, tumbuh sebuah lembaga pendidikan yang memiliki berbagai jenjang pendidikan, fasilitas, dan program pembinaan santri. (PONTREN MODERN RAHMATUL ASRI Weblog)

Dan dari gagasan seorang tokoh, lahir ruang bagi anak-anak bangsa untuk belajar, bertumbuh, dan mempersiapkan diri menghadapi masa depan.

Inilah barangkali makna terdalam dari sebuah pengabdian:

bukan sekadar apa yang berhasil dilakukan selama seseorang memegang jabatan, tetapi apa yang tetap hidup setelah jabatan itu berakhir.


Penutup

Dr. H. A. Malik B. Masry, SE., M.Si. merupakan sosok yang perjalanan pengabdiannya mencakup berbagai ruang penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Ia pernah menjadi bagian dari kepemimpinan Kota Makassar, kemudian mengemban amanah dalam pemerintahan pusat sebagai Deputy of Regional Growth Development (Deputi Pengembangan Pertumbuhan Regional) dan Sekretaris Menteri pada Kementerian Percepatan Pembangunan Kawasan Timur Indonesia.

Namun, di antara berbagai jabatan dan amanah tersebut, salah satu warisan yang paling panjang usianya adalah keberaniannya menanam investasi pada pendidikan.

Rahmatul Asri lahir dari sebuah keyakinan bahwa kemajuan daerah tidak cukup hanya dibangun dengan infrastruktur.

Daerah membutuhkan manusia yang berilmu, beriman, berkarakter, disiplin, mandiri, dan mampu memimpin masa depan.

Itulah cita-cita yang menjadi fondasi perjalanan Rahmatul Asri.

Pondok Pesantren Modern Rahmatul Asri mulai dibangun pada 1996 dan diresmikan pada 18 Agustus 1996. Dari areal sekitar 27,4 hektare dan jumlah awal sekitar 63 santri, lembaga tersebut terus berkembang menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan pendidikan di Kabupaten Enrekang. (Repository IAIN Pare)

Selama lembaga itu terus mendidik generasi, selama para alumninya terus mengabdi kepada masyarakat, selama ilmu dan nilai-nilai kebaikan terus diwariskan, maka gagasan yang pernah ditanam oleh Dr. H. A. Malik B. Masry akan terus hidup.

Jabatan boleh berakhir.

Usia manusia boleh berhenti.

Tetapi ilmu, pendidikan, dan amal yang diwariskan kepada generasi dapat terus berjalan melampaui zaman.

Itulah jejak pengabdian Dr. H. A. Malik B. Masry bagi Makassar, Enrekang, Sulawesi Selatan, dan generasi yang lahir dari Rahmatul Asri.

#malik_B_Masry #ppmrahmatulasri #rahmatulasri #mtsrama #mtsrahmatulasri