- KAJIAN KEISLAMAN
Pendahuluan
Bait ke-2: Pujian kepada Allah
وَالْآخِرِ الْبَاقِي بِلَا تَحَوُّلِ
Maka segala puji bagi Allah Yang Maha Terdahulu, Yang Maha Awal, Yang Maha Akhir, dan Yang Kekal tanpa mengalami perubahan.
Syarah (Penjelasan)
(فالحمد) Secara bahasa, al-hamdu berarti memuji dengan lisan atas sesuatu yang indah dan baik yang dipilih secara sadar, sebagai bentuk pengagungan, baik sesuatu itu merupakan nikmat maupun bukan nikmat.
Adapun menurut syariat, al-hamdu adalah perbuatan yang menunjukkan pengagungan terhadap Zat yang memberikan nikmat karena nikmat yang diberikan-Nya, baik pengagungan itu dilakukan dengan lisan, keyakinan dalam hati, maupun perbuatan anggota badan.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Setiap perkataan yang tidak dimulai dengan pujian kepada Allah, maka perkataan itu terputus (kurang keberkahannya).” (1)
Rukun-rukun hamdalah ada lima: (وَأَرْكَانُ الحَمْدِ خَمْسَةٌ)
- (حَامِدٌ) Orang yang memuji, yakni pihak yang mengucapkan pujian.
- (وَمَحْمُوْدٌ «اللهُ – تَبَارَكَ وَتَعَالَى –») Zat yang dipuji, yaitu Allah Yang Mahasuci lagi Mahatinggi.
- (وَمَحْمُوْدٌ بِهِ «اللِّسَانُ») Sarana untuk memuji, yaitu lisan.
- (وَمَحْمُوْدٌ عَلَيْهِ «النِّعْمَةُ وَغَيْرُهَا») Hal yang menjadi alasan pujian, yaitu nikmat dan selainnya.
- (وَصِيْغَةٌ) Lafal pujian. Lafal pujian yang paling utama adalah:
(الله) Artinya, Allah Ta‘ala adalah Zat yang berhak disembah.
(القديم) Yang tidak memiliki permulaan dan tidak ada awal bagi keberadaan-Nya.
(الأول) Yang ada sebelum segala sesuatu. Dengan demikian, Allah Ta‘ala tidak memiliki permulaan.
(الآخر) Yang tidak memiliki akhir bagi keberadaan-Nya.
(الباقي) Yang kekal selama-lamanya.
(بلا تحول) Tanpa perubahan dan tanpa pergantian. Mahasuci Allah Ta‘ala; Dia mengubah, tetapi Dia sendiri tidak berubah. Sebab, yang mengalami perubahan adalah makhluk, bukan Sang Pencipta.
Sesuatu yang berubah membutuhkan sesuatu yang dapat mengubahnya menjadi keadaan yang lain, dan dengan perubahan itu ia mencapai kesempurnaan. Kebutuhan dan usaha mencapai kesempurnaan merupakan tanda kekurangan, sedangkan kekurangan mustahil bagi Allah. Oleh karena itu, Zat Allah tidak mengalami perubahan dan tidak pula mengalami pergantian.
Segala sesuatu terbagi menjadi empat kategori:
Sesuatu yang tidak memiliki permulaan dan tidak memiliki akhir, yaitu Allah Ta‘ala.
Sesuatu yang memiliki permulaan dan memiliki akhir, yaitu makhluk yang terdiri atas manusia, jin, dan selain keduanya.
Sesuatu yang tidak memiliki permulaan, tetapi memiliki akhir, yaitu ketiadaan makhluk sejak azali. Ketiadaan tersebut berakhir ketika keberadaan kita dimulai. Maksudnya, makhluk pada mulanya tidak ada, kemudian Allah Ta‘ala menciptakan mereka sehingga mereka menjadi ada.
Sesuatu yang memiliki permulaan, tetapi tidak memiliki akhir, yaitu negeri akhirat. (2)
(2) Nuruz Zholam, Syarah Mandzumah Aqidah, Muhammad Nawawi Al-Jawi, hlm. 25, cetakan Darul Hawi.
- Kitab: Fath al-Allam: Syarh Manzhumat Aqidat al-Awam
- Penulis: Dr. Hisyam al-Kamil Hamid Musa
- Penerbit: Dar al-Bashirah