Ikuti Kami
Artikel 11 Oktober 2026 5 menit baca

Syarah Aqidatul Awwam | Bagian 3: Muqaddimah #2

Bagikan
Syarah Aqidatul Awwam | Bagian 3: Muqaddimah #2
11 Oktober 2026
5 menit baca
  1. KAJIAN KEISLAMAN

Pendahuluan

Bait ke-2: Pujian kepada Allah

Makna pujian, keazalian, keawalan, dan kekekalan Allah Ta‘ala
٢- فَالْحَمْدُ لِلَّهِ الْقَدِيمِ الْأَوَّلِ
وَالْآخِرِ الْبَاقِي بِلَا تَحَوُّلِ
Terjemahan

Maka segala puji bagi Allah Yang Maha Terdahulu, Yang Maha Awal, Yang Maha Akhir, dan Yang Kekal tanpa mengalami perubahan.

✦ ✦ ✦

Syarah (Penjelasan)

(فالحمد) Secara bahasa, al-hamdu berarti memuji dengan lisan atas sesuatu yang indah dan baik yang dipilih secara sadar, sebagai bentuk pengagungan, baik sesuatu itu merupakan nikmat maupun bukan nikmat.

Adapun menurut syariat, al-hamdu adalah perbuatan yang menunjukkan pengagungan terhadap Zat yang memberikan nikmat karena nikmat yang diberikan-Nya, baik pengagungan itu dilakukan dengan lisan, keyakinan dalam hati, maupun perbuatan anggota badan.

«كُلُّ كَلَامٍ لَا يُبْدَأُ فِيهِ بِالْحَمْدِ لِلَّهِ فَهُوَ أَجْذَمُ»

Rasulullah ﷺ bersabda: “Setiap perkataan yang tidak dimulai dengan pujian kepada Allah, maka perkataan itu terputus (kurang keberkahannya).” (1)

Rukun-rukun hamdalah ada lima: (وَأَرْكَانُ الحَمْدِ خَمْسَةٌ)

  1. (حَامِدٌ) Orang yang memuji, yakni pihak yang mengucapkan pujian.
  2. (وَمَحْمُوْدٌ «اللهُ – تَبَارَكَ وَتَعَالَى –») Zat yang dipuji, yaitu Allah Yang Mahasuci lagi Mahatinggi.
  3. (وَمَحْمُوْدٌ بِهِ «اللِّسَانُ») Sarana untuk memuji, yaitu lisan.
  4. (وَمَحْمُوْدٌ عَلَيْهِ «النِّعْمَةُ وَغَيْرُهَا») Hal yang menjadi alasan pujian, yaitu nikmat dan selainnya.
  5. (وَصِيْغَةٌ) Lafal pujian. Lafal pujian yang paling utama adalah:

(الله) Artinya, Allah Ta‘ala adalah Zat yang berhak disembah.

(القديم) Yang tidak memiliki permulaan dan tidak ada awal bagi keberadaan-Nya.

(الأول) Yang ada sebelum segala sesuatu. Dengan demikian, Allah Ta‘ala tidak memiliki permulaan.

(الآخر) Yang tidak memiliki akhir bagi keberadaan-Nya.

(الباقي) Yang kekal selama-lamanya.

(بلا تحول) Tanpa perubahan dan tanpa pergantian. Mahasuci Allah Ta‘ala; Dia mengubah, tetapi Dia sendiri tidak berubah. Sebab, yang mengalami perubahan adalah makhluk, bukan Sang Pencipta.

Sesuatu yang berubah membutuhkan sesuatu yang dapat mengubahnya menjadi keadaan yang lain, dan dengan perubahan itu ia mencapai kesempurnaan. Kebutuhan dan usaha mencapai kesempurnaan merupakan tanda kekurangan, sedangkan kekurangan mustahil bagi Allah. Oleh karena itu, Zat Allah tidak mengalami perubahan dan tidak pula mengalami pergantian.

✦ ✦ ✦
Faedah (فائدة)

Segala sesuatu terbagi menjadi empat kategori:

1. القسم الأول

Sesuatu yang tidak memiliki permulaan dan tidak memiliki akhir, yaitu Allah Ta‘ala.

2. القسم الثاني

Sesuatu yang memiliki permulaan dan memiliki akhir, yaitu makhluk yang terdiri atas manusia, jin, dan selain keduanya.

3. القسم الثالث

Sesuatu yang tidak memiliki permulaan, tetapi memiliki akhir, yaitu ketiadaan makhluk sejak azali. Ketiadaan tersebut berakhir ketika keberadaan kita dimulai. Maksudnya, makhluk pada mulanya tidak ada, kemudian Allah Ta‘ala menciptakan mereka sehingga mereka menjadi ada.

4. القسم الرابع

Sesuatu yang memiliki permulaan, tetapi tidak memiliki akhir, yaitu negeri akhirat. (2)

(1) Sunan Abi Dawud, jilid 4, halaman 261, hadis nomor 4840, Bab al-Huda fi al-Kalam, al-Maktabah al-‘Ashriyyah, Sidon, Lebanon.
(2)
Nuruz Zholam, Syarah Mandzumah Aqidah, Muhammad Nawawi Al-Jawi, hlm. 25, cetakan Darul Hawi.
Sumber Referensi:
  • Kitab: Fath al-Allam: Syarh Manzhumat Aqidat al-Awam
  • Penulis: Dr. Hisyam al-Kamil Hamid Musa
  • Penerbit: Dar al-Bashirah
#syarah #aqidatulawwam #bait2 #mtsrahmatulasri